Amerika, nnews.id – Situasi global memanas pada Kamis, 29 Oktober 2026. Dua kekuatan besar Amerika Serikat dan Iran kembali ke meja perundingan, sementara pasar energi dan keuangan dunia bereaksi keras.Harga minyak dunia yang sempat melonjak ke atas US$115 per barel kini berbalik melemah.
Minyak Brent turun ke US$114 dan WTI ke US$102 per barel setelah muncul harapan baru perdamaian di Timur Tengah.
itu datang dari langkah mengejutkan Gedung Putih. Wakil Presiden AS JD Vance secara resmi mengirim surat kepada Kepala Dewan Keamanan Iran, Mohsen Rezaei, untuk membuka kembali jalur negosiasi. Qatar yang menjadi mediator juga menyodorkan draf kesepakatan damai baru.
Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi perundingan itu masih berjalan, meski hasilnya belum pasti.Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Teheran masih membuka pintu diplomasi.Namun di lapangan, perang belum reda.
Koalisi pimpinan Arab Saudi mencegat rudal balistik Houthi yang mengarah ke wilayah timurnya pada Kamis dini hari. Sehari sebelumnya, Bandara Aden di Yaman dibombardir.
Serangan ini yang membuat harga minyak tidak jadi anjlok lebih dalam.Di sisi lain, dari Washington, bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) memutuskan menahan suku bunga di 3,75 – 4 persen.
The Fed menilai inflasi AS masih tinggi dan belum mencapai target 2 persen. Keputusan dengan voting 10 lawan 2 ini membuat bursa global kompak melemah, termasuk IHSG Indonesia yang anjlok ke level 5.100-an.Satu-satunya yang justru naik adalah bursa Jepang.
Nikkei melonjak 1,1 persen ke 64.659 karena saham raksasa chip AI, Advantest, naik 6 persen setelah laporan laba yang melebihi ekspektasi.
Analis menilai, jika diplomasi AS-Iran berhasil, harga energi global bisa kembali stabil dan meredakan inflasi. Tapi jika gagal, konflik bisa menyeret harga minyak kembali ke atas US$120 dan menekan ekonomi negara berkembang termasuk Indonesia.
Penulis : hen
