Jakarta, Nnews.id – Kamis, 29 Oktober 2026, sehari setelah Sumpah Pemuda, giliran almamater yang pernah melahirkan reformasi turun ke jalan. Mahasiswa Universitas Trisakti geruduk Istana Negara, Jakarta Pusat.
Bukan tanpa alasan. Mereka membawa spanduk besar bertuliskan “INDONESIA GELAP” dan “TRITURA”. Sebuah diksi yang menggetarkan, karena mengingatkan kita pada sejarah.
Kepresidenan Mahasiswa Trisakti dalam rilisnya menyebut: “Atas nama pengabdian, ambisi dipelihara. Atas nama stabilitas, kritik dibungkam. Atas nama rakyat, kekuasaan dijalankan tanpa selalu mendengar jeritan mereka.”
Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) versi 2026 ini dirumuskan jelas:
1. Pemulihan ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, kesehatan nasional. Ini bukan sekadar angka pertumbuhan di atas kertas, tapi soal harga bahan pokok, biaya kuliah, dan kerusakan lingkungan yang dirasakan rakyat.
2. Berantas Inkompetensi Pejabat Negara dan Hapus Rangkap Jabatan Pejabat Publik. Sebuah sindiran keras tentang pejabat yang merangkap jabatan komisaris, tapi kinerja di kementerian dipertanyakan.
3. Tegakkan Supremasi Sipil. Tuntutan klasik yang selalu relevan, agar negara tidak dikelola dengan pendekatan kekuasaan semata.
Apa makna “Indonesia Gelap” bagi mereka?
Bagi mahasiswa Trisakti, gelap bukan berarti tidak ada lampu. Gelap adalah ketika kritik dianggap musuh, ketika kebijakan diambil tanpa transparansi, ketika janji keadilan sosial hanya jadi jargon.
Fenomena ini menarik jika disandingkan dengan aksi sehari sebelumnya di Bundaran HI. Di satu sisi ada deklarasi Sumpah Pemuda yang tertib dengan kehadiran aparat dan selebgram, di sisi lain ada aksi geruduk Istana yang kritis dan organik.
Di sinilah letak ujian kedewasaan demokrasi kita. Apakah suara “Indonesia Gelap” akan didengar sebagai alarm, atau justru akan dibungkam atas nama stabilitas?
Sejarah mencatat, Tritura 1966 lahir dari keresahan yang sama dan berhasil mengubah arah bangsa. Apakah Tritura 2026 akan bernasib sama? Waktu yang akan menjawab. Tapi yang pasti, ketika kampus sekelas Trisakti sudah bersuara keras, itu artinya ada yang memang tidak baik-baik saja.
Rakyat tidak butuh pencitraan. Rakyat butuh perubahan.
Oleh : Redaksi Nnews.id
